Minggu, 11 Februari 2024

Senin, 18 April 2022

00.22

 

Kamu tiba-tiba muncul lagi dalam pikiranku. Awalnya karena gambarmu yang muncul dalam linimasa media sosialku. Kemudian memori tentangmu seperti berputar di kepalaku.

Aku mungkin merindukanmu. Entah apakah aku merindukan sosokmu ataukah rangkaian kejadian di hidupku bersama kamu di dalamnya pun juga kombinasi diantara keduanya.

Seharusnya rindu yang mungkin muncul ini bisa saja segera diatasi. Aku seharusnya bisa segera mengetikkan pesan untukmu. Mengatakan bahwa aku rindu dan ingin sekali bertemu denganmu (atau jika memungkinkan menelusuri lagi memori terdahulu bersamamu).

Nyatanya sampai saat ini aku tak punya nyali. Aku selalu menjadi pengecut. Jika dulu aku membiarkanmu pergi karena ketakutanku. Kini aku bahkan tak berani mengambil langkah dahulu untuk menyapamu.

Seperti pencuri yang tertangkap basah sedang mencuri. Aku malu karena semua berawal dari kesalahanku. Tidak mungkin bukan tiba-tiba aku memanggilmu kembali setelah menyuruhmu pergi?

Tapi harusnya aku tidak peduli. Harusnya aku membuang rasa maluku jauh-jauh. Karena kamu tahu, rasa rindu yang bercampur penyesalah dan rasa bersalah ini menyiksa. Sesak sekali rasanya merindukan orang yang sudah kau lepas bertahun lamanya.


Surabaya, 10 April 2022

00.22 WIB

Senin, 21 Maret 2022

Holding Hands: Episode 3


Aku menggesek-gesekkan tanganku, berharap bahwa gesekkan diantara kedua telapak tanganku mampu menimbulkan kehangatan. Tapi seberapa besar sih pengaruhnya dari menggesekkan tangan? Seberapa lama kehangatan yang muncul akan bertahan supaya aku tak kedinginan? 


Kami sedang duduk di pinggir bukit untuk menunggu matahari terbit. Kali ini sekalipun tidak tahan terhadap dingin, aku tidak merasa keberatan untuk pergi ke atas bukit pagi-pagi buta untuk melihat sunrise. Aku menyukai matahari (kecuali matahari jam 12 siang) dan rela menunggu matahari terbit ataupun tenggelam. Pun kapan lagi menghabiskan waktu-waktu terakhirmu dengan teman-teman SMA mu ditemani pemandangan yang indah? 


“Gini doang masa dingin sih?” ujarnya yang tiba-tiba sudah ada di sebelahku. 

“Sst.. udah deh diem aja.” balasku sewot sambil tetap menggosok-gosok tanganku. 

“Eehhh..” aku terkejut karena ia tiba-tiba menarik tanganku. “Aduh iya dingin banget ternyata tangannya” ia menggenggam telapak tanganku, membungkusnya dengan kepalan tangannya. Sebenarnya, suhu diatas bukit ini tidak terlalu dingin, hanya saja sedari dulu aku memang tidak pernah tahan dengan suhu rendah. Makanya, tanganku sudah terasa akan membeku sekalipun suhu udara hanya menunjukkan dua belas derajat celcius. 


Keterkejutanku tidak berhenti sampai disitu. Tanganku yang tadi dikungkung dengan kepalan tangannya kini dibawanya masuk ke dalam saku jaketnya. 


Deg… tiga kali dalam tiga tahun. Kembali detak jantungku meningkat. Aku berusaha mengendalikan diri dengan menarik nafasku. Sebenarnya kejadian seperti ini bukan suatu kejadian baru. Di kelas, aku sering memasukkan tanganku ke dalam jaketnya ketika tiba-tiba AC menjadi sangat dingin. Tetapi biasanya aku tidak merasakan apapun. Apakah ini karena genggaman tangannya? 


Kali ini genggamannya tidak hanya membuatku aman, ada rasa nyaman dalam genggaman yang ia berikan saat ini. The feeling for him starting to grow the moment he held my hands. 

Kamis, 24 Februari 2022

Holding Hands : Episode 2

(kindly play this song while reading)


Aku tidak pernah suka jelajah malam. Menurutku, ini adalah suatu aktivitas yang sia-sia. Apa yang hendak dicari dengan jalan-jalan malam di tengah hutan dengan penerangan yang minim? Kata orang-orang kegiatan ini banyak esensinya. Tapi menurutku kegiatan ini tak ubahnya seperti uji nyali.

Lagi-lagi aku tidak bisa menghindari kegiatan yang menurutku tidak penting ini. Kami berbaris, laki-laki di barisan sebelah kanan dan perempuan di bagian kiri. Kemudian kami diminta untuk berhitung. Satu .. dua.. tiga.. aku mendapat urutan ketujuh. Empat.. lima.. enam… tunggu, sepertinya aku mengenal suara itu. Ia juga mengucap angka tujuh. Jika tebakanku benar, kami akan dipasangkan untuk melakukan aktivitas ini. Tujuh. Angka yang selalu menjadi kesukaannya. Entah kebetulan darimana lagi, kami mendapat angka yang sama. Itu berarti kami akan menghabiskan satu jam kedepan berpasangan. 


Bersama dengannya di situasi seperti ini sebetulnya tidak buruk. Aku mengenalnya lebih dari tiga tahun, sehingga aku yakin aku tidak akan mati gaya. Kami bisa saja membicarakan apapun. Mulai dari makanan kesukaanku hingga klub bola favoritnya. 


Tiba giliran kami untuk berjalan. Aku yang penakut ini berusaha tidak menunjukkannya dengan mengajaknya berbicara. “Kriet…kriet…” sial, baru saja mulai, kakak-kakak senior sudah mengeluarkan siasatnya. Sekalipun aku tahu kalau ini hanya akal-akalan mereka, tetap saja aku tidak menyukainya. Aku pun menghentikan langkahku. Sepertinya ia menyadarinya. Ia ikut berhenti, tangannya menggenggam tanganku. Mendekatkan tubuhnya ke arahku. Kepalanya mengangguk padaku, seperti memberi tanda untuk kembali berjalan. Ia kembali mengajakku bicara, kali ini membicarakan ulah teman-teman kami selama perkemahan ini. Beruntung, suara kami menyamarkan debaran jantungku yang lagi-lagi berdebar karena genggaman tangan.


Dua kali. Selama tiga tahun ini jantungku berdebar karenanya. Genggaman tangan yang entah mengapa mampu membuatku merasa aman. Seolah menjagaku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja. 

Kamis, 03 Februari 2022

Holding Hands : episode 1



Ia tiba-tiba menarik pergelangan tanganku, kemudian menggenggam telapak tanganku erat. Seolah hendak memastikan kalau kami berdua akan selamat sampai ke seberang jalan. Seharusnya ini merupakan suatu hal yang wajar. Gestur yang ditunjukkan seorang teman yang membantu temannya yang tidak bisa menyebrang jalan. Tapi entah mengapa seratus dua puluh detik yang biasanya berlangsung cepat seolah melambat.

Tanpa disadari detak jantungku meningkat, aku tidak mengetahui apakah disebabkan oleh genggaman tangannya atau rasa khawatir karena adanya kemungkinan adegan ini dilihat oleh ayah yang sedang menunggu di seberang jalan.  Satu hal yang bisa aku pastikan, sejak saat itu ada perasaan lain yang pelan-pelan berkembang untuknya. 

Minggu, 04 April 2021

Thank You

 


I wish to have a beautiful journey

A quiet wave so I don't end up sinking

A year full of happiness

But

Life isn't all rainbows and unicorns

Is a huge box that full of surprises

Sometimes you got chocolate but another time you got wasabi

One day you walk on a flower path, but another day you got your feet bleeding because of the thorn

You shold always ready

Because it's like riding a roller coaster

You're up then you're down

The wave is far from quiet

But thank you

Thank you for keeping swim

And keep walking

Although it's hard.

So, instead for hoping rainbow all day,

I wish you to have stronger body and mind

That you could face all of the hardship till the end

Jumat, 26 Maret 2021

Inspired by #ep. 1 : Day6-I Would

Jadi, aku berencana bikin tulisan-tulisan yang terinspirasi dari lagu. Eh, ga cuma lagu ding. Kalau misal lihat artis atau orang-orang yang terkenal ya gapapa lah. Episode pertama ini inspirasinya dari lagunya Day6 : I would. Ya silakan didengarkan lagunya dan dibaca tulisannya, semoga suka! 




 "Aku minta maaf............" 

"Buat apa? I don't need your apologies, yang udah yaudah."

"Maaf, udah pergi gitu aja.........."

"Aku tuh nggak butuh permintaan maaf. Kamu tahu ga sih, sampai sekarang aku bertanya-tanya, aku kenapa, did I make a mistake?" 

"No...you don't." 

"Then why you leave that day? Aku berhak tahu alasan kamu ya."

"Bukan salah kamu. Kamu nggak pernah salah. Aku yang salah.................."

[sigh] Ia mendengus, berusaha tetap tenang. Tangannya menggantung di udara, seakan ingin mengusap wajahnya frustasi. Namun diurungkannya. 

"Ini nih. Kamu selalu muter-muter, nggak pernah menyelesaikan masalah. Semua aja disimpan sendiri. Ya mana aku tahu apa yang kamu rasain."

Aku berusaha menahan air mataku. Semua yang dikatakannya benar. I never try to change myself. I'm too afraid to be hurt, so I run instead of fixing the problem. 

"Aku tahu aku salah........ aku lari. Aku nggak pernah cerita aku kenapa. Tapi.....itu karena aku nggak tahu aku kenapa. Aku masih berusaha buat cari tahu, dan aku nggak mau ngajak orang lain masuk kalau aku belum beres sama diriku. I'm sorry."

"Kamu tahu, aku selalu berusaha buat ngertiin kamu. Kalau kamu ga mau ketemu, aku nggak masalah. Nggak pernah ngehubungi juga nggak masalah. Tapi kamu harusnya bilang. Biar aku berhenti. Bukan tiba-tiba pergi......."

Ia terdiam, sebelum tiba-tiba melanjutkan

"Kamu tahu, dalam menyelesaikan masalah orang bisa aja lari, atau menghadapinya. Kalau lari, mungkin dia akan tenang saat itu, tapi buat seterusnya? Karena masalahnya nggak selesai, cuma dihindari, ya suatu saat masalahnya bakal kembali. Kalau dihadapi, mungkin akan sakit saat itu, tapi bakal langsung tahu gimana hasilnya. Kalau gagal ya dicoba lagi." 

"Kayak kamu sekarang ini. Kamu dulu lari, tapi sambil bawa masalah di pundakmu. Hidupmu jadi nggak tenang. Aku nggak pernah butuh permintaan maaf. Tapi mungkin kamu yang butuh minta maaf. Karena kamu merasa salah, kamu membawa masalahmu kemana-mana. Akhirnya mau nggak mau kamu harus menghadapi aku lagi. Buat minta maaf. Biar kamu tenang." 

Air mataku menetes. He is right. I'm the one who need this. 

"Maaf.................Aku tahu ini semua udah basi. Kamu benar. Aku nggak pernah tenang. Aku terus-terusan merasa bersalah."

"It's okay. Terima kasih sudah berani minta maaf. Aku akuin, awalnya memang nggak mudah buat menerima apa yang kamu lakukan. Tapi lama-lama aku nggak papa. I'm happy right now. I hope you find your happiness too. Semoga kamu bisa segera tahu maumu apa." 

"Thank you....................can we......can we be friend again?"

"Ya iya lah! Good luck buat rencana-rencanamu selanjutnya ya!"

Ia pergi. Seharusnya aku lega karena tak lagi terikat dan merasa sesak. Tapi entah, terlalu banyak ruang yang tersisa. I know, leaving him was the biggest mistake I made. If I could turn back time, I will make him happy..........


Rabu, 06 Januari 2021

Perihal mencintai dan dicintai

 02.01.21

Selama ini aku bertanya-tanya, aku kenapa. Apa yang salah dari aku. 

I always want to be loved. Aku selalu merasa bahwa tidak ada orang yang benar-benar menyayangiku. 


Setahun kebelakang aku terus-menerus berpikir apakah aku memang tidak layak, apakah memang aku tidak diinginkan? Kemudian salah seorang temanku mengatakan bahwa ia ingin menjadi sepertiku. 

Aku tak tahu mengapa ia begitu, apa yang ia lihat dariku?


Menarik mundur kebelakang, teman-temanku mempercayakan aku dengan jabatan yang aku sendiri tidak pernah berfikir bahwa aku pantas berada disana. 

Pun sampai sekarang aku masih bertanya-tanya mengapa aku. 

Aku kemudian sadar, ternyata aku tidak benar-benar mencintai diriku sendiri. 

I always pushed people away because I don’t think I deserve them. I am afraid that one day they will leave me, so I decide to leave first. 

Aku selalu menginginkan afeksi dari orang lain, tapi setelah itu aku pergi, karena aku berfikir bahwa aku tidak layak mendapatkannya. 

Aku berharap aku bisa melihat diriku seperti orang lain melihatku. Bahwa aku pantas untuk dicintai. Karena aku tahu bahwa sebelum kita bisa menerima cinta dari orang lain, yang terpenting adalah mencintai diri kita sendiri. 


Ps: I’m still trying to love my self! 






Senin, 19 Oktober 2020

untitled

I don't want to be everyone favourite, I want to be yours

Ia tahu apa yang ia butuhkan, seseorang yang memberinya ruang. Membiarkannya bertumbuh, bergerak sendiri, karena tahu ia bisa. Namun tetap berdiri di belakang, berjaga-jaga kalau-kalau ia terjatuh. Yang senantiasa mengulurkan tangan, yang kemudian memeluk, karena tahu bahwa dibalik kemandirian ia butuh didampingi, diberikan bantuan. She needs someone who knows that she is vulnerable. 


Rabu, 23 September 2020

Kita adalah pemberani bukan?

Kadang kita menyesali apa-apa yang telah kita lakukan dalam hidup. 
Tindakan impulsif yang seringkali kita lakukan
Berbagai ketakutan yang sebenarnya tidak berdasar
Hingga kesempatan yang seringkali terlewatkan

Tak jarang kita berpikir, "ah seandainya waktu itu............."

Tapi apakah kemudian kita bisa benar-benar kembali ke masa itu? 
Atau seandainya kita diberi kesempatan lagi, apakah kita kemudian bisa memperbaikinya? 

Kekecewaan kita akan sesuatu yang tidak berjalan lancar adalah hal yang wajar
Toh namanya manusia, pasti punya berbagai macam emosi untuk menggambarkan yang kita alami

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? 

Menyadari kesalahan yang kita lakukan memang terasa tidak nyaman
Terlebih ketika kita mengakui bahwa sebenarnya kita memang bersalah 
Tapi kemudian, kesadaran dan pengakuan yang kita miliki akan ketidakmampuan kita merupakan tahap awal untuk kita maju ke depan
Untuk belajar, agar nanti jika kita dihadapkan pada situasi yang sama, kita mampu menghadapinya dengan lebih baik

Berikan apresiasi pada diri kita
Karena kita mampu melangkah ke depan
Menghadapi ketidaknyamanan yang muncul untuk membuat diri kita tumbuh
Selangkah, demi selangkah
Tidak apa-apa, menghadapi ketidaknyamanan memang tidak mudah
Tapi kita semua hebat, karena berani untuk melangkah

Jumat, 11 September 2020

30 Days Writting Challenge

 


Jadi, karena aku ngga pernah konsisten kalau nulis pengen deh sekali-kali konsisten nulis. So, I give it a try haha. Tulisan di dalemnya bisa jadi kisah nyata atau ngga, atau gabungan keduanya. Doakan semoga konsisten. 

Ps : tolong ingetin kalau ngga nulis ya! wish me luck

Sabtu, 27 Juni 2020

Sekeping #4

Melepaskan bukan hal yang mudah. Aku tahu itu. Setiap melihatnya aku tahu bahwa ia belum benar-benar melepaskan. Ia hanya berusaha lari. Sama seperti saat ia datang kemari. Ia lari dari masalahnya yang dulu, dari orang-orang yang membuatnya kecewa.

Ketika ia berkata akan kembali, aku tak tahu,
apakah ia sudah mampu melepaskan, atau justru ia kembali karena telah menyerah?

Kalau aku hanya memikirkan diriku saja, sudah pasti aku ingin ia mampu melepaskan bebannya.
Namun sekali lagi, aku tahu melepaskan bukan hal yang mudah. Apalagi jika sebelumnya kamu tak pernah belajar bagaimana rasanya melepaskan, rasanya harus mengikhlaskan sesuatu yang benar-benar kau jaga sepenuh hati.

Kini aku yang cemas, kalau-kalau ia menyerah, bukannya melepaskan apa yang ia tinggalkan, ia justru melepaskan aku..........

Jumat, 10 April 2020

Page 1

Thank you for all your kind words
Thank you for all the wishes
It feels like I'm loved by someone
What did I do to deserve all of this

I wish every wishes come true.........

030420

Selasa, 17 Maret 2020

Lari

Dalam bingungku
Aku lari
Kamu menanti

Aku terus melangkah
Sampai-sampai aku tak tahu sudah putaran keberapa ini
Kamu terus berdiri
Membawa sebotol air, kalau-kalau aku lelah
Lalu berhenti
Lalu mengambil botol yang kau tawarkan
Karena kamu yakin, aku pasti akan menyerah

Keyakinanmu
Kegigihanku
Bertemu, saling berkonfrontasi

Aku tahu siapa yang akhirnya kalah
Kamu
Aku
Aku lelah
Kamu bosan

Aku berhenti
Kamu pergi

Selasa, 03 September 2019

When you have a bad day



"I'm all ears" 

That's the sentence I wanna hear right now. Sometimes we just want to be heard, didn't we? 

Sabtu, 01 Juni 2019

It's Okay not to be Okay






You said it’s okay not to be okay
It’s okay to tell others that you’re not feeling well
But why are you trying so hard to smile and say you’re okay?

Selasa, 11 September 2018

#page363of365

written on: Dec, 29th 2017

Ada seorang yang pernah berkata bahwa setiap hari adalah hari baru baginya
Pengalaman baru
Tempatnya belajar hal lain
Aku setuju
Life is full of surprise, isn't it?
Kemarin aku tidak tahu siapa mereka
Kemarin aku hanya bicara seperlunya pada mereka
Lalu keesokan harinya kami berkenalan
Keesokan harinya kami mulai bercanda 
Dan hari ini mereka punya ruang sendiri di hatiku

Minggu, 22 Juli 2018

My First Concert Experience

Sesuai sama judulnya diatas, minggu lalu adalah kali pertama aku nonton konser. Yap, pertama kali karena biasanya cuma nonton pertunjukan musik ya pas pensi sekolah doang (sekolahan sendiri pula). Walaupun aku tinggal di Surabaya yang notabene kota besar dan sering banget ada konser, tapi emang dasarnya aku nggak begitu suka yang rame orang, desel-deselan gitu. Jadi, ya itu jadi salah satu alasan kenapa aku nggak pernah nonton konser. Oh iya, satu lagi, aku menganggap lebih nyaman nonton dari TV yang jelas-jelas tempatnya nyaman di rumah dan bisa lihat muka orangnya lebih jelas dibandingkan dengan nonton rame-rame di konser. Bahkan saking nggak berminatnya aku buat menonton konser, aku pernah bilang ke salah satu temen yang waktu itu belain buat nonton konser di negara tetangga "ngapain jauh-jauh nonton ke sana, enakan nonton di TV apa youtube nggak sih bisa lihat jelas orangnya". 

Tapi ternyata lama-lama pengen juga nonton konser. Sebetulnya karena pengen tahu aja gimana sih suasananya konser, sampai banyak banget yang ngebelain nonton konser jauh-jauh ke luar negeri. Akhirnya, nonton konser jadi one of my bucket list. Aku harus nonton konser paling nggak sekali seumur hidup (alay tapi ya gimana ya ehe). Kebetulan waktu itu Ed Sheeran ada rencana konser di Indonesia. Udah siap-siap dong buat beli tiketnya, eh sayangnya belum beruntung buat dapet tiket Ed Sheeran gara-gara jadwal buka ticket box nya bareng sama jadwal PKL. Tapi sayangnya lagi, Ed Sheeran ngebatalin jadwal konsernya gara-gara doi kecelakaan. Yasudah deh belom jodoh buat nonton konser. 

Long story short, setelah keinginan pecah telor nonton Ed Sheeran gagal, akhirnya memutuskan nonton Wanna One. Lah kok jauh banget habis pengen nonton western jadi ke K-Pop? ehehe. Salah satu bucket list aku selain nonton konser adalah nyobain nonton konser K-Pop. Kenapa K-Pop? Ya penasaran aja soalnya pingin tahu gimana hebohnya atmosfer fans-fans K-Pop kalau nonton konser. Soalnya selama ini tahu kalau orang suka K-Pop itu totalnya minta ampun. Alasan kenapa Wanna One ya soalnya baru-baru ini aja ndengerin K-Pop, dan kebetulan ngikutin Wanna One dari zaman Produce 101 dan kebetulan tau lagu-lagunya juga, dann ini kayaknya bakal jadi konser terakhir mereka sebelum disband akhir tahun ini, jadi ya eman aja kalau nggak nonton hehehe. Oh iya, nonton Wanna One ini juga jadi reward buat aku dari aku karena udah berhasil menyelesaikan skripsi (sebetulnya niatnya pengen liburan, tapi karena yang mau diajak liburan pada repot skripsian akhirnya memutuskan nonton konser).

Jadi, setelah niat menonton konser muncul, aku nunggu beberapa saat sampai keluar seat plan dan harganya. Kalau harganya masih masuk akal sama isi dompet, ya oke kalau nggak ya nggak lah (aku masih rasional kalau soal duit-duitan ini wkwk). Kira-kira seminggu sebelum puasa seat plan nya udah keluar. Nah pas lihat harganya kok kampret mahal amat :'))))) tapi ya gimana ya, udah terlanjur kepingin. Kalau melihat kondisi tabungan, jelas aku nggak bakal milih buat beli 2 kategori tiket terdepan. Karena sebelumnya nggak pernah nonton konser akhirnya memutuskan buat cari-cari info dulu enaknya beli tiket posisi yang mana nih. Cari-cari info ini penting biar kita nggak rugi nantinya pas nonton konser. Kan nggak lucu kalau pengennya nonton secara jelas orangnya eh dapetnya posisi yang nggak enak. Ada beberapa saran nih buat tahu posisi mana yang enak buat nonton konser. Pertama bisa tanya-tanya ke temen yang pernah lihat konser dengan venue yang sama dan kondisi seatplan yang sama. Kedua, bisa cari-cari di internet tentang review-review orang yang sudah pernah nonton konser sebelumnya. Ketiga, kalau kamu punya bias tertentu di suatu grup, kamu perhatiin konser-konser mereka sebelumnya, biasmu itu seringnya ada di posisi mana, kiri, kanan atau tengah. Kebetulan aku kemaren cuma pakai 2 cara tadi, cara ketiga nggak aku pakai karena memang niatnya nggak fokus ke satu bias aja, dan dengan kondisi uang yang tidak berlimpah, memang nggak kepikiran sih buat melihat bias sedekat itu hehe. 

Setelah menemukan insight, akhirnya memutuskan buat ambil yang cat 3. Kategori ini termasuk 2 kategori termurah di konser Wanna One kemarin. Memutuskan beli ini ya tentunya harganya lebih murah dibanding yang lain, tapi nggak yang paling belakang. Soalnya kalau ambil yang Cat 2 bakal sayang karena harganya lebih mahal, ya walaupun lebih depan tapi lebih ngoyo menurutku karena dia standing tapi yang paling belakang (dibelakang VIP dan Cat 1). Udah tahu mau beli tiket apa, sekarang waktunya mikir mau beli sendiri lewat web atau lewat jastip. Awalnya aku mau beli sendiri dengan prinsip kalau ga dapet ya udah berarti memang nggak ditakdirkan buat nonton, tapi akhirnya tergoda juga buat pake jastip :))) (soalnya waktu hari H penjualan lagi ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal). Akhirnya malam sehari sebelum penjualan tiket aku cari-cari jastip yang masih bisa buat beli tiket, dan ketemulah kpoptoursby (sebelumnya udah kepo tentang olshop ini karena dia buka tour dari Surabaya ke Serpong buat nonton Wanna One bareng-bareng). Fee yang kudu dibayar buat beli tiket nya 200 ribu. Agak mahal sih, tapi ya kalau nggak mau ribet memang lebih enak pakai jastip karena kalau pakai jastip bisa diurusin sampai jadi tiket fisiknya, jadi kita gausah ribet-ribet buat antri nuker tiketnya. Tapi tetep kudu hati-hati ya buat cari jastip yang trusted.  Masalah jastip ini sebetulnya aku agak worry karena seminggu sebelum konser Wanna One ini temenku ketipu tiket konser EXO yang di Malaysia, tapi Alhamdulillah jastip yang aku pakai trusted. 

Beres sama masalah tiket konser, sekarang saatnya cari akomodasi. Lagi-lagi buat yang nggak mau ribet dan nonton konsernya cuma sendirian, bisa ikut tour. Setahu aku tour ini udah include akomodasi pulang pergi, hotel, dan makan. Kalau dari Surabaya, aku tahunya ya kpoptoursby. Awalnya aku mau ikutan tour, tapi akhirnya memutuskan pergi sendiri karena udah nemu temen hehe. Usahain cari tiket hotel jauh-jauh hari, karena biasanya hotel di sekitar venue bakal penuh kalau lagi ada konser. 

Hari H konser.
Beberapa hari sebelum konser aku udah semangat pengen cari-cari freebies, jadi pas hari H datengnya agak pagian. Jam 12 kurang udah sampai di ICE. Pas sampai di sana, ternyata udah rame banget. Banyak ternyata orang yang jual merchandise mulai dari photocard sampai kaos. Niat awal yang mau nyari freebies jadi batal karena udah mager duluan lihat banyaknya orang ditambah mataharinya lagi terik-teriknya. Akhirnya cuma nunggu tiket kepegang aja (janjian sama jastip sekitar jam 12). Buat yang nggak kuat iman, sebaiknya bawa duit lebih soalnya barang-barang yang dijual lucu-lucu. Tapi kudu pinter-pinter nawar soalnya penjualnya ngasih harga nggak masuk akal kadang-kadang. Aku pun sempat beli beberapa barang karena nggak kuat iman hehe. 

hasil ke khilafan kemarin (beli kipas gede gara-gara panas banget. niatnya beli kipas kecil tapi harganya sama aja)

Bingung mau ngapain lagi di luar, akhirnya memutuskan buat masuk ke dalam venue. Pas masuk ke dalam ini kita nggak boleh bawa makanan sama benda-benda terlarang lain. Ketika udah di dalam kita juga nggak dibolehin buat keluar lagi (ada yang bagian scanning di bagian pintu masuk dan keluar). Di dalam venue ada beberapa cart makanan dan minuman, photobooth, dan stan salah satu sponsor. Sambil nunggu gate masuk ke dalam tempat konsernya dibuka bisa makan dulu atau antri buat foto sama banner Wanna One di photobooth (yang ini aku nggak foto karena antriannya panjang banget. Sayang sih sebenernya karena waktu nunggu buat masuk ke tempat konsernya lama banget). 

Nah, di dalam ruang tunggu ini udah dibagi-bagi gitu per area sesuai dengan nomor antrian dan kategori tiketnya (buat yang beli tiket standing). Aku kira yang Cat 3 dan 4 ada bagian antriannya juga, ternyata nggak ada guys. Jadi yang pegang Cat 3 dan 4 bakal masuk ke tempat konser setelah pemegang tiket VIP, Cat 1, dan Cat 2 masuk ke dalam. Jarak waktu antara mulai masukin orang-orang ke dalam tempat konser ini cukup lama, open gate dimulai pukul 17.00, tapi sampai pukul 18.30an Cat 2 belum selesai dimasukkan. Padahal konser dimulai pukul 19.00. Kami yang memegang tiket Cat 3 dan Cat 4 bingung dong harus kemana karena memang sama promotor nggak diarahkan kami harus kemana. Aku awalnya cuma duduk-duduk aja di pinggir, karena promotornya janji nanti bakal ada pengumuman buat Cat 3 dan 4, tapi ditunggu lama kok nggak ada apa-apa, tapi ada barisan baru di pinggir, dan ternyata itu adalah barisan buat Cat 3 dan 4. Akhirnya ikutan deh antri di situ. 

Pas udah masuk ke dalam tempat konsernya, MasyaAllah. Ku bingung tak bisa berkata-kata. Deg-degan. Hehehe. Nggak nyangka kalau aku beneran nekat buat nonton. Setelah lihat tempatku duduk, jadi bersyukur karena ternyata nggak salah milih beli tiket. Memang sih nggak bisa lihat sampai ke keringat-keringatnya, tapi cukup jelas kok menurutku. Makin bersyukur setelah di tengah jalan konsernya sempet diberhentikan karena penonton yang ada di VIP dan Cat 1 desak-desakan. Untung belinya tiket duduk, jadi bisa nonton nyaman tanpa harus desak-desakan. 



view dari tempat dudukku

Sayangnya sepanjang konser nggak bisa begitu bebas merekam atau foto karena memang peraturan konsernya nggak memperbolehkan itu. Tapi nggak papa, dengan begitu bisa lebih menikmati konsernya. Sepanjang konser cuma bisa tarik nafas dalam-dalam karena ya seseneng itu akutu hehehe :))))))))))). Orang-orang yang biasanya cuma dilihat di TV atau Youtube, sekarang tiba-tiba terpampang nyata dihadapanku. Menyenangkan sih, kalau biasanya pas nonton nggak ada yang diajak nyani karena temen-temen atau keluarga ga suka, kalau sekarang bisa nyanyi bareng-bareng sama banyak orang. Merindiiinggg. Akhirnya aku sekarang tahu kenapa orang-orang suka nonton konser hehehe. 

Highlight konsernya WannaOne pas kemarin itu pas mereka bawain day by day sama pas bagian solonya Jae Hwan. Terlepas aku suka semua penampilan mereka malam itu, ngelihat langsung koreografi day by day bikin khilaf :( seksi amat dan makin bikin cinta (alay se tapi ya memang begitu). Terus Jae Hwan memang nggak ada duanya pas nyanyi. Bagus bangeeet!!! Aku merinding. He can reach the high notes so well and that's made me love him more. Intinya apa yang tak lihat malam itu bikin aku nggak nyesel sudah bela-belain menguras tabungan :')))))))))))).  

koreografinya 18++ nih 

favorit aku pas solo stage nya Jae Hwan

Sudah se itu aja yang bisa tak bagi ke kalian. Terlalu senang aku tuh :)). Memang ya nonton konser bikin makin cinta, tapi ya gara-gara itu ku sedih karena grupnya dah mau bubar :((( Tapi ya nggak papa ya, bismillah they'll gonna have brighter way after this. Min Hyun bakal balik sama Nu'est, Jae Hwan bakal solo, Dae Hwi dan Woojin yang bakal gabung lagi sama Brand New Boys nya dan member-member lain dengan rencananya masing-masing. 


Sabtu, 26 Mei 2018

Let's meet again



source: pinterest



You said you wanna meet when spring is coming
It’s spring
But you’re not here..

(kindly listen to Jonghyun's "Before our Spring" here: https://www.youtube.com/watch?v=v9ea5VDQfXg)

Selasa, 20 Februari 2018

3 a.m


you are my 3 a.m thought
your name suddenly blown up 
and I can’t help it
I should sleep well, because tommorrow will be a long day for me
but you’re still there
watching me with the smile I miss the most
oh crap
my cheeks turn red
and I start smilling
but then I smirk
oh I wish you’re not just my 3 a.m thought