Rabu, 23 September 2020

Kita adalah pemberani bukan?

Kadang kita menyesali apa-apa yang telah kita lakukan dalam hidup. 
Tindakan impulsif yang seringkali kita lakukan
Berbagai ketakutan yang sebenarnya tidak berdasar
Hingga kesempatan yang seringkali terlewatkan

Tak jarang kita berpikir, "ah seandainya waktu itu............."

Tapi apakah kemudian kita bisa benar-benar kembali ke masa itu? 
Atau seandainya kita diberi kesempatan lagi, apakah kita kemudian bisa memperbaikinya? 

Kekecewaan kita akan sesuatu yang tidak berjalan lancar adalah hal yang wajar
Toh namanya manusia, pasti punya berbagai macam emosi untuk menggambarkan yang kita alami

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? 

Menyadari kesalahan yang kita lakukan memang terasa tidak nyaman
Terlebih ketika kita mengakui bahwa sebenarnya kita memang bersalah 
Tapi kemudian, kesadaran dan pengakuan yang kita miliki akan ketidakmampuan kita merupakan tahap awal untuk kita maju ke depan
Untuk belajar, agar nanti jika kita dihadapkan pada situasi yang sama, kita mampu menghadapinya dengan lebih baik

Berikan apresiasi pada diri kita
Karena kita mampu melangkah ke depan
Menghadapi ketidaknyamanan yang muncul untuk membuat diri kita tumbuh
Selangkah, demi selangkah
Tidak apa-apa, menghadapi ketidaknyamanan memang tidak mudah
Tapi kita semua hebat, karena berani untuk melangkah

Jumat, 11 September 2020

30 Days Writting Challenge

 


Jadi, karena aku ngga pernah konsisten kalau nulis pengen deh sekali-kali konsisten nulis. So, I give it a try haha. Tulisan di dalemnya bisa jadi kisah nyata atau ngga, atau gabungan keduanya. Doakan semoga konsisten. 

Ps : tolong ingetin kalau ngga nulis ya! wish me luck

Sabtu, 27 Juni 2020

Sekeping #4

Melepaskan bukan hal yang mudah. Aku tahu itu. Setiap melihatnya aku tahu bahwa ia belum benar-benar melepaskan. Ia hanya berusaha lari. Sama seperti saat ia datang kemari. Ia lari dari masalahnya yang dulu, dari orang-orang yang membuatnya kecewa.

Ketika ia berkata akan kembali, aku tak tahu,
apakah ia sudah mampu melepaskan, atau justru ia kembali karena telah menyerah?

Kalau aku hanya memikirkan diriku saja, sudah pasti aku ingin ia mampu melepaskan bebannya.
Namun sekali lagi, aku tahu melepaskan bukan hal yang mudah. Apalagi jika sebelumnya kamu tak pernah belajar bagaimana rasanya melepaskan, rasanya harus mengikhlaskan sesuatu yang benar-benar kau jaga sepenuh hati.

Kini aku yang cemas, kalau-kalau ia menyerah, bukannya melepaskan apa yang ia tinggalkan, ia justru melepaskan aku..........